650 total views,  2 views today

Covid-19 (Corona virus disease 2019) atau lebih dikenal dengan Corona pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 di Wuhan, ibukota provinsi Hubei China. Sejak itu Covid-19 menyebar secara global, mengakibatkan pandemi Covid-19 yang berkelanjutan.

Pasien positif virus corona di seluruh dunia telah menembus 1 juta kasus. Worldometers menyatakan pada 3 April 2020 jumlah kasus positif Covid-19 telah mencapai angka 1.018.107 orang, sembuh sebanyak 213.218 orang, meninggal sebanyak 53.251 orang. Dari keseluruhan jumlah tersebut, terdapat 5 negara dengan jumlah kasus terbanyak secara global, yakni Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Jerman, China (www.kompas.com). Tanggal 8 April 2020, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia terus merangkak naik. Bersyukur angka kesembuhan juga mengalami kenaikan, namun kasus kematian akibat Covid-19 ini masih ada (www.merdeka.com).

Melihat pertambahan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia menunjukkan sudah menjadi bencana. Berdasarkan UU Nomor 24/2007 Tentang Penanggulangan Bencana, definisi bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

UU Nomor 24/2007 juga mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana non-alam, dan bencana sosial.Merespons wabah Covid-19, dalam satu hari tanggal 31 Maret 2020 Pemerintah mengeluarkan tiga regulasi sekaligus, yakni: Perppu Nomor 1/2020; PP Nomor 21/ 2020; dan Kepres Nomor 11/2020.Dengan Kepres Nomor 11/2020, Presiden telah menetapkan bahwa Covid-19 sebagai jenis penyakit yang menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat. Menurut Pasal 1 angka 2 UU 6/2018, Kedaruratan Kesehatan Masyarakat adalah kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan/atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah atau lintas negara. Berdasarkan UU Nomor 6/2018, upaya yang harus dilakukan Pemerintah dalam menghadapi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dapat berupa Karantina (Karantina Rumah, Karantina Wilayah, Karantina Rumah Sakit), atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Akan tetapi, ternyata Pemerintah memilih melakukan PSBB.Pemberlakukan PSBB ini memang berbeda konsekuensi yuridisnya dengan Kekarantinaan. Berdasarkan Pasal 52 dan Pasal 55 UU Nomor 6/2018 mengamanatkan bahwa selama penyelenggaraan Karantina, kebutuhan hidup dasar bagi orang dan makanan hewan ternak yang berada dalam Karantina menjadi tanggung-jawab Pemerintah. Sedangkan dalam pemberlakuan PSBB tidak ada perintah UU Nomor 6/2018 yang mewajibkan Pemerintah memenuhi kebutuhan hidup dasar bagi orang dan makanan hewan ternak yang berada dalam PSBB. Pilihan tersebut mungkin karena tidak tersedianya anggaran yang cukup manakala diberlakukan Karantina.

Sekarang kita ambil hikmah dari kejadian bencana non-alam Covid-19, antara lain: jadi memiliki banyak kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, beribadah bersama, sholat berjama’ah karena diberlakukan Work from Home (WfH) dan Stay at Home (SaH). Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dan mandi kini terasa mutlak harus. Hal mana sebenarnya telah lama diperintahkan oleh Allah, hanya saja banyak orang melalaikannya.

Bahwa do’a adalah harapan, dan ikhtiar menjaga physical distancing dan social distancing adalah upaya untuk mewujudkan harapan. Tidak perlu merasa khawatir yang berlebihan, namun sekaligua jangan sampai terjebak dalam rasa takabur. Ingat Rasulullah Muhammad saw sebagai manusia yang paling dekat dengan Allah swt, beliau bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran kafir Quraisy. Tentu bukan karena takut atau pengecut, melainkan karena risalah agama Islam harus sampai kepada generasi berikutnya. Khalifah Umar ra pernah menghindari kampung yang terkena wabah (tha’un). Tentu bukan karena dia takut atau pengecut, namun dia berpendapat bahwa berlarilah dari takdir buruk ke takdir yang baik.Mari jangan sombong seolah menantang wabah (tha’un). Jangan pula bersikap bodoh dengan ilmu kita. Semoga kita dimasukkan ke dalam golongan muttaqin. (MK)

mkhambali

By mkhambali

Author is a lecturer & lawyer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected by mkhambali !!